Sabtu, 29 Desember 2012

Chairiku ; Dzikir Puisi Chairil Anwar



YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949


AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

  

Asal Mula Negara



Nah, apa yang anda pikirkan tentang Negara?
Tau gak bagaimana Negara itu muncul ?
Terkadang kita dihadapkan pada satu keadaan dimana negara justru kehilangan peran dan fungsinya secara subtansial. Artinya, negara ada hanya secara formal-legalitas semata. Tanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat justru diabaikan. Negara hanya menjadi istana kecil para elit kekuasaan. Keadaan yang seperti ini jangan sampai menjadi berlarut-larut. Para pemangku kekuasaan sudah harusnya sadar diri dan memfungsikan negara sebagaimana mestinya. Simak ulasan singkat  berikut.

Berikut ini adalah teori tentang asal-mula negara ;


Teori perjanjian masyarakat (kontrak sosial)

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat dengan tokoh utamanya adalah Thomas Hobbes, Jhon Locke, dan JJ. Rosseau. Teori ini mengemukakan bahwa negara didirikan atas dasar kesepakatan para anggota masyarakat. Mereka kemudian menyerahkan hak-hak yang dimilikinya untuk diatur oleh negara.

Kamis, 27 Desember 2012

jika kukata-kata ;


Bukan sajak terbaik yang baru semalam menyerbak
dan mekar dimana-mana
di tiap sudut siku-sikunya
Namun,
perempuan terbaik
dengan amuk sajaknya "sebagai perempuan kita bisa apa?"

aku tambahi saja
catatan kaki ; sebab memang kita masih bagian terkecil
iya, sebagai "anonimus" dalam sejarah umat manusia

dan Indonesia
tidakLah sepetak tanah persegi
yang semalam suntuk
seperti para pakar birahi
memainkan kartu libidonya di meja demokrasi
selesai tuntas dalam secangkir kopi "BeL GedueL BLeh"

pastikan,
jika kukata-kata
dan kumantra-mantra "bersamaku kau bisa apa saja"
jangan tanyakan "jika tanpamu"

catatan akhir desember

Minggu, 16 Desember 2012

Memaknai Topeng dan Perilaku


rasinah.dit
Pertunjukan dengan mengenakan topeng merupakan seni pentas tertua di jagat ini. Hampir setiap bangsa di berbagai pelosok dunia mempunyai  benda seni penutup wajah dalam berbagai wujud dan watak. Kiranya hingga kini pun topeng-topeng itu masih menjadi bagian tradisi atau ekpresi estetik masyarakat manusia. Bahkan pada masyarakat yang masih lekat dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, topeng bukan hanya dipandang sebagai sekedar penutup wajah namun dianggap memiliki kekuatan magis. Sedangkan keberadaan topeng pada masyarakat modern selain tetap diusung sebagai benda seni juga dikembangkan sebagai bentuk seni pertunjukan tari atau teater.
Masyarakat bhineka Indonesia memiliki beragam seni tari dan teater yang dalam penampilannya mengenakan topeng. Masyarakat suku Dayak di Kalimantan mewarisi topeng Hudoq yang biasanya hadir sebagai seni sakral dalam ritual keagamaan mohon kesuburan atau syukuran atas panen yang melimpah. Masyarakat desa Trunyan di tepi danau Batur, Bangli, hingga kini juga mengeramatkan pantomime bertopeng yang disebut Barong Berutuk. Teater menggunakan topeng berwajah primitip yang terbuat dari batok kelapa ini merupakan ritual mohon kesuburan. Selain tari topeng untuk mohon kesuburan, topeng di tengah masyarakat Nusantara umumnya dipakai sebagai perantara berhubungan dengan arwah nenek moyang seperti masih terlihat jejak-jejaknya kini pada suku Batak (Sumatera Utara), masyarakat Tolage-Alfur (Sulawesi Tengah), dan suku-suku di pedalaman Papua.
Topeng sebagai seni pertunjukan berkembang subur di Jawa dan Bali. Di pulau Jawa, tari dengan mengenakan topeng sudah dikenal sejak jaman Majapahit. Raja Brawijaya masyur sebagai penari topeng yang piawai. Demikian pula di Bali, tari atau teater dengan mengenakan topeng sudah berkembang pada

Jawa ; Sebuah Warisan Budaya


Tembang Jawa

agendol
Tembang dolanan kalebet budaya tradisi lan salah setunggalipun warisan budaya ingkang adi luhung pantes dipunuri-uri lan lestantunaken. Tembang dolanan anak inggih lagu ingkang lahir tanpa bapa ibu, ugi namung awujud lisan utawi tradisi lisan mboten arupi tulisan, lan kadospundi asal-usulipun lan larah-larahiupun mboten wonten ingkang mangertos. Tembang dolanan dipun kenal awit namung gethok tular kemawon.

Miturut Wayan Dibia (2000: 47) wosipun bilih tembang dolanan bagian tradisi lisan ingkang biasa dipun tembangaken kanthi spontan ing plataran griya, lorong- lorong griyo utawi ing lapangan. Gandheng wujudipun sastra lisan kathah tembang dolanan ingkang ewah saking aslinipun, ingkang iwah syairpun awit dipun jumbuhaken kawentenan utawi daerahipun, nanging lagu/iramanipun rata-rata tasih sami. Wonten ing TV asring miring tembang dolanan mawi arasemen enggal, benten kaliyan aslinipun. Miturut Dananjaya (20997) bilih penyebab ewahing tembung ing tembang dolanan amargi ditum tularaken kanthi lisan, anggenipun mirengaken mboten sami, lafalipun kirang cetha utawidipun larasaken kaliyan kawontenanipun jaman. Tembang dolanan sampun turun-tumurun saking simbah-simbah

Karakter Bangsa Berbasis Nilai – Nilai Keislaman


           Sebagaimana telah dimaklumi, maju – mundurnya kehidupan sebuah bangsa sangatlah bergantung kepada karakter bangsa itu. Jika mereka memiliki karakter yang baik, maka akan baik pulalah nasib bangsa itu. Akan tetapi sebaliknya, apabila karakter bangsa itu buruk atau lemah, maka bangsa itupun akan mengalami kemunduran, bahkan kehancuran. Allah swt telah menegaskan tentang hal ini dalam firman-Nya yang sangat populer yakni surat 13 (Al-Ra’d): 11. Di sini Allah menegaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan atau nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Di dalam surat 8 (Al-Anfal) : 53 dinyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah Dia berikan kepada suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.

       Apabila ayat terakhir ini menjelaskan perubahan nasib suatu bangsa dari nasib baik berlimpah nikmat menjadi bernasib buruk dan jelek, maka ayat yang disebut pertama menunjuk kepada pengertian yang lebih umum. Nasib suatu bangsa bisa berubah pula dari buruk atau mundur menjadi baik atau maju bergantung kepada kemampuan mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (ma bi anfusihim).

Cogito Ergo Sum

               Descartes lahir di La Hayee, Touraine, pada 31 Maret 1596. Di usia 9 tahun ia belajar logika, filsafat, fisika, etika, dan matematika di La Fleche, sebelum kemudian belajar hukum di Universitas Poitiers sampai tahun 1616. Konon ia juga sempat belajar ilmu kedokteran di tempat yang sama. Selama dua tahun (1617-1619) hidup di Belanda, Descartes membangun korespodensi dengan pemikir-pemikir besar eropa, seperti Hobbes, Moore, dan Arnauld.

         Descartes meninggal pada Februari 1650 dengan meninggalkan karya-karya monumental, seperti Discours de La Methode (1637), Meditationes de Prima Philosophia (1641), Principia Philosophiae (1644), The passions of Soul, The World (tidak dipublikasikan), dan banyak lagi [1]. Dua karya pertama Descartes (Discourse dan Meditationes) banyak diminati para ilmuwan karena keduanya menuangkan gagasan Descartes tentang Cartesian Doubt (Metode Keraguan Descartes), yang sering disebut Cogito Descartes atau Cogito saja [2].

          Semangant renaissance—kebangkitan rasionalisme Yunani—waktu itu tak mudah dilepaskan dari sosok Descartes yang dijuluki sebagai “Bapak Modernisme”. Melalui kecermelangan pemikirannya, zaman modern menemukan orientasi proyeksinya. Rasionalisme Descartes sedikit banyak membantu meretas kehadiran aliran-aliran khas modernisme, seperti individualisme, subyektifisme, materialisme, saintisme, dan positivisme. Dan salah satu titik pangkal pemikiran Descartes tertuang dalam argumentasinya tentang substansi yang hendak dibahas secara ringkas dalam tulisan ini.
         

Pendidikan Islam ; Tradisional dan Modern



       A. Pendidikan Islam Tradisional

1. Ciri Pendidikan Tradisional.

Pada awalnya pendidikan Islam tampak sangat tradisional yang berbentuk halaqoh-halaqoh. Apalagi bila meruntut ke belakang mulai dari zaman Nabi diawali dengan pelaksanaan pendidikan di rumah (informal), kuttab ( lembaga pendidikan yang didirikan dekat masjid, tempat untuk belajar membaca dan menulis Al-Quran ), kemudian pendidikan di masjid dengan membentuk halaqoh-halaqoh ( lingkaran kecil, saling berkumpul dan transfer ilmu ), sallon ( sanggar-sanggar seni ; kemudian berkembang menjadi tepat tukar menukar keilmuan, transfer pengetahuan), dari masjid berubah menjadi madrasah ( Syamsul Nizar : 2007, 109-124 ).

Ciri pendidikan tradisional yang sangat menonjol adalah lebih betumpu perhatiannya terhadap ilmu-ilmu keagamaan semata dengan mengabaikan ilmu-ilmu modern sedangkan sistem pendidikan modern hanya menitik beratkan ilmu-ilmu modern dengan mengabaikan Ilmu-ilmu keagamaan. Proses ini mulai dilakukan di rumah-rumah, kuttab, sallon, masjid dan madrasah ilmu yang diajarkan seputar pengajaran ilmu keagamaan. Dalam konteks Islam “keindonesiaan” mengenal istilah pesantren. Tempat para santri menimba ilmu agama. Perkembangan lembaga-lembaga pendidikan pada masa awal ini tidaklah mengherankan karena para pendahulu ( penyebar agama Islam) ingin berusaha memadukan konteks “keindonesiaan dengan keislman”. Kemudian berkembang menjadi pesantren-pesantren yang ada di Indonesia. Namun seiring kemajuan zaman, modernisasi pendidikan Islam mulai tampak dengan munculnya bentuk-bentuk madrasah, sebagai pengembangan dari system pesantren.

Pendidikan Dalam Islam


Konsep pendidikan dalam islam : 
Melihat pandangan Islam yang meletakkan ilmu dan ahlinya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia, maka salah satu aplikasinya adalah mendirikan lembaga pendidikan yang mampu mencetak ulama yang memiliki kualitas iman dan ilmu yang memenuhi tuntutan zaman, diantara lembaga pendidikan tersebut adalah pesantren yang sudah berabad-abad teruji sistemnya dan dapat melahirkan banyak tokoh pembangkit umat. Dan berdakwah melalui pesantren ini sangat efektif dalam mencetak keunggulan Sumber Daya Manusia ( SDM.). 

Sejarah masuk islam ke Indonesia : Telah kita ketahui bersama bahwa tradisi pesantren adalah warisan dakwah Wali Songo ( Wali Sembilan ) yang tetap eksis yang masih membutuhkan penyesuaian sesuai dengan zamannya. Rentetan periodik dakwah ini tidak perlu kita berpaling dari hasil karya ulama tradisional tetapi yang perlu kita lakukan adalah melanjutkan estafet dakwah dengan menambah kualitas pesantren itu sendiri. Karena yang jelas mereka sudah melakukan banyak ijtihad untuk menjalankan proses dakwah yang merupakan tuntutan agama yang harus dijalankan oleh masing-masing individu kaum muslimin. Metode mereka dalam berdakwah banyak mengambil dari budaya kaum hindu yang merupakan kepercayaan nenek moyang kita zaman dahulu. Maka tidak heran kalau melihat budaya India yang ada kemiripan dalam penyampaian serta ilmu pengetahuan karena pembawa dakwah ini berasal dari Gujarat. Dan pesantren merupakan benteng Islam Indonesia bahkan benteng bangsa Indonesia sendiri..

Jumat, 14 Desember 2012

Pembagian Filsafat

Kerapkali ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang abstrak dan berada di     awang-awang (= tidak mendarat) saja, padahal ilmu filsafat itu dekat dan berada dalam kehidupan kita sehari. Benar, filsafat bersifat tidak konkrit, karena menggunakan metode berpikir sebagai cara pergulatannya dengan realitas hidup kita.
Filsafat , philosophy, dalam bahasa Inggeris, atau philosophya dalam Yunani mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan. Philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi. Dari pengertian tersebut filsafat sebenarnya amat dekat dengan realitas kehidupan kita. Untuk mengerti apa filsafat itu, orang perlu menggunakan akal budinya untuk merenungkan relaitas hidupnya, “apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Akan kemana saya hidup? Tentunya pertanyaan tersebut sejatinya muncul alamiah bila akal budi kita dibiarkan bekerja. Persoalannya, apakah orang atau peminat filsafat sudah membiarkan akal budinya bekerja dengan baik memandang relaitas? Aristoteles menyebut manusia sebagai “binatang berpikir”.

Dialektika Socrates


Kali ini kita akan membahas model Dialektika yang diungkapkan masih oleh salah satu filsuf terkenal dari masa Yunani Kuno, yaitu Sokrates dari Athena. Sokrates terkenal memang bukan karena metode Dialektika. Ia menjadi sangat terkenal karena ia memilih minum racun untuk mempertahankan prinsipnya dalam pengadilan kota Athena. Namun, sebenarnya, peristiwa ini terjadi justru sebagai akibat langsung dari metode Dialektika yang ia pakai. Kenapa demikian?

Metode Dialektika Sokrates agak sedikit berbeda dengan pola yang dipakai oleh Zeno. Ini karena Sokrates memang memaksudkan Dialektika justru pada asal katanya, yaitu bercakap-cakap atau berdialog. Ya, Sokrates memang adalah orang yang senang bercakap dengan orang lain yang bertemu dengannya di sepanjang jalan kota Athena. Ia selalu mengajak mereka diskusi untuk sesuatu yang ia anggap penting.

Prolog ; Filsafat Klasik


Filsuf-Filsuf Generasi Pertama

Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya itu. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat to apeiron atau yang tak terbatassedangkan Anaximenes menunjuk udara.

Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan. Dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir 
pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.

Wahabi Menelan Ludah Sendiri


Peringatan

“Maulid” 

Muhammad bin Abdul Wahab

Apa jadinya jika Wahabi yang selama ini selalu mem-bid'ah-kan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Justru malah mengadakan peringatan maulid Muhammad bin Abdul Wahab. Bagaimana menurut anda? Lucu bukan?. Seperti menelan ludah sendiri, padahal ludah itu baru saja di "lepehkan" ke tanah.
Tak dipungkiri lagi, asal pemahaman Wahabi (yang kini terkenal dengan faham Salafy, tepatnya salafi wahabi dan bukan salah satu dari penerus salafus saleh)  tak bisa lepas dari Tokoh siapa lagi kalau bukan Muhammad Ibn Abdul Wahhab An-Najedi. Faham Wahabi yang “berkembang biak” di Saudi kini juga telah menjalar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mereka bersemangat dengan slogan-nya, Menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah, Kembali ke Manhaj Salaf, Tinggalkan TBC (Takhayul Bid’ah Khurafat).

Sejarah Wahabi


 Taukah anda tentang gerakan wahabi ???

Nah, ini adalah tulisan yang sengaja ada untuk membuka cakrawala keislaman anda semuanya. Selamat menikmati.

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya.

Kamis, 13 Desember 2012

Trotsky ; Syarat Sosialisme


 



Perlu diketahui bahwa Rozhkov[1], yang menentang program sosialisi alat-alat produksi dan koperasi, mempresentasikan “syarat-syarat yang dibutuhkan untuk peradaban masa depan, yang dijelaskan oleh Marx dengan tegas,” sebagai berikut:

“Apakah sudah ada syarat-syarat objektif material, seperti perkembangan teknik yang akan mengurangi motivasi untuk keserakahan pribadi dan kekawatiran akan uang[?], usaha pribadi, inisiatif dan resiko, ke level yang minimum; dan yang akan kemudian mendorong produksi sosial ke depan? Level perkembangan teknik seperti ini berhubungan paling dekat dengan dominasi produksi skala-besar yang hampir-total[!] di semua[!] cabang-cabang ekonomi. Apakah tahapan ini sudah tercapai? Bahkan syarat-syarat subjektif dan psikologi masih belum terpenuhi, seperti halnya perkembangan kesadaran kelas di antara kaum proletar, yang berkembang sedemikian rupa sehingga mencapai kesatuan spiritual dari mayoritas rakyat. Ada asosiasi-asosiasi produsen seperti pabrik gelas Prancis di Albi yang terkenal, dan beberapa asosiasi pertanian, juga di Prancis; akan tetapi pengalaman di Prancis menunjukkan bahwa bahkan kondisi di sebuah negara yang sangat maju ini masih belum cukup berkembang untuk dominasi sistem koperasi. Perusahaan-perusahaan ini hanyalah berukuran sedang, level tekniknya tidaklah lebih tinggi dari perusahaan-perusahaan kapitalis yang biasa, mereka tidak memimpin perkembangan industri, tetapi mendekati level rata-rata yang cukup baik.”

“Hanya ketika pengalaman dari asosiasi-asosiasi produsen ini menunjukkan peran kepemimpinan mereka di dalam kehidupan ekonomi, maka kita dapat mengatakan bahwa kita sedang mendekati sebuah sistem yang baru; hanya dengan begitu kita bisa yakin bahwa kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk keberadaan sebuah sistem yang baru telah terpenuhi”[2]

Al Jabiri ; Kritik Nalar Arab



Perlu diketahui bahwa Renaisance abad pertengahan di Eropa memberikan dampak yang besar terhadap arus pemikiran manusia sesudahnya. Pasca peristiwa tersebut,weltanschauung (pandangan dunia) masyarakat Barat ketika itu berubah terbalik seratus delapan puluh derajat. Perubahan itu ditandai dengan kemenangan “akal” atas dominasi “gereja” yang secara otomatis mengubah weltanschauung mereka dari Teosentris menjadi Antroposentris. Ditambah dengan penemuan mesin uap oleh James Watt dan pendirian pabrik-pabrik secara massif membuat perubahan tersebut menjadi signifikan menuju abad baru yang disebut modernitas.
Modernisasi yang sedang berjalan di Eropa, secara tidak langsung memberikan dampak hingga ke dunia Arab. Diawali dengan invasi Napoleon pada tahun 1798 ke Mesir, membuat masyarakat Mesir “sadar” akan kemajuan yang dialami Eropa dan ketertinggalan mereka. Walaupun banyak yang menganggap kemajuan modernisasi Eropa merupakan ancaman terhadap agama, tetapi hal tersebut tetap membuat beberapa kalangan “resah “ dan bangkit untuk mengejarnya.

Trotsky ; Merebut Kekuasaan



Perjuangan Merebut Kekuasaan [1]

Di hadapan kita adalah sebuah selebaran mengenai program dan taktik kami yang berjudul: Tugas-Tugas Yang Dihadapi Kaum Proletar Rusia – Sebuah Surat Kepada Kamerad-Kamerad di Rusia. Dokumen ini ditandatangani oleh P. Axelrod[2], Astrov, A. Martynov, L. Martov dan S. Semkovsky.

Masalah revolusi digaribawahi di dalam ‘surat’ ini secara sangat umum; kejelasan dan ketelitian di dalam analisa menghilang seiring para penulis surat ini berpaling dari penjelasan situasi yang diciptakan oleh peperangan ke prospek politik dan kesimpulan taktikal; terminologi menjadi cair dan definisi sosial menjadi ambigu.

Dari luar negeri, tampaknya ada dua mood yang mendominasi: pertama, kekawatiran akan pertahanan nasional – dari keluarga Romanov[3] sampai ke Plekhanov[4] - dan kedua, ketidakpuasan yang universal – dari oposisi birokratis sampai ke kerusuhan massa di jalanan. Dua mood ini juga menciptakan sebuah ilusi akan sebuah kebebasan popular di masa mendatang yang akan lahir dari pertahanan nasional. Tetapi kedua mood ini bertanggungjawab terhadap ketidakjelasan dalam analisa masalah ‘revolusi popular’, bahkan ketika masalah ini dibandingkan dengan ‘pertahanan nasional’.

Pemikiran Hasan Hanafi


Prolog

Sekian banyak cendikiawan Muslim, dalam arti pemikir, yang memiliki komitmen cukup baik kepada Islam dan juga keahlian dalam ilmu-ilmu agama Islam, yang tetap berusaha mengembangkan pemikirannya untuk membangun peradaban yang didasarkan atas nilai-nilai universalitas Islam tersebut. Salah satu dari cendikiawan itu adalah Hassan Hanafi, yang berusaha mengambil inisiatif dengan memunculkan suatu gagasan tentang keharusan bagi Islam untuk mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dengan dimensi pembebasan. Dengan gagasan tersebut, baginya, Islam bukan sebagai institusi penyerahan diri yang membuat kaum Muslimin menjadi tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan arus perkembangan masyarakat, tetapi Islam merupakan sebuah basis gerakan ideologis populistik yang mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Proyek besar itu dia tempuh dengan gayanya yang revolusioner dan menembus semua dimensi ajaran keagamaan Islam.

Teologi islam (ilm al-kalam asy’ari), secara teoritis, menurut Hasan Hanafi, tidak bisa dibuktikan secara ‘ilmiah’ maupun ‘filosofis’. Teologi yang bersifat dialektik lebih diarahkan untuk mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniaannya, bukan dialektik tentang  konsep watak sosial dan sejarah, disamping ini ilmu kalam juga sering disusun sebagai persembahan kepada para penguasa, yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Hingga pemikiran teologi lepas dari sejarah dan pembicaraan tentang manusia.

Rabu, 12 Desember 2012

Sekilas Biografi Gramsci



Anda tidak mengenal Gramsci ?
sungguh menyedihkan sekali anda ini...........

 Mari Nikmati Perkenalan singkat ini
Kecemerlangan pemikiran Gramsci, untuk beberapa waktu belum begitu terkenal di kalangan akademisi-akademisi sosial se-zaman. Dengan pertimbangan sebuah bahasa yang terlanjur “menghegemoni” ketika itu, kedikenalannya baru mencuat sesudah penerjemahan karya-karyanya ke dalam bahasa Inggris. Pemikir bernama lengkap Antonio Gramsci, lahir di Italia, pada tanggal 22 Januari 1891. Meski terlahir dari keluarga kelas bawah, ia sempat mengenyam pendidikan di Universitas Turin setelah mendapatkan beasiswa. 

Tidak hanya bertengger pada gelar seorang pemikir, ia juga dikenal sebagai aktivis gerakan-gerakan sosial di Turin, Italia, sewaktu masih bertitel mahasiswa. Dari sini, aktivitasnya sebagai seorang aktivis terus meroket. Tahun 1913, ia bergabung dengan Partai Sosialis Italia, sembari bekerja di media massa kaum sosialis di Turin. Aktivitasnya juga diimbangi dengan perkembangan dalam bidang pemikiran. Ia fokus pada perlawanan terhadap ideologi dominan yang disebar-luaskan oleh negara.

Menginjak tahun 1922, Gramsci pindah ke Rusia dan bekerja di Moskow Wina hingga tahun 1924. Di sinilah ia mulai melancarkan pemikiran-pemikiran kritis tentang sosialisme. Setelah itu ia kembali ke Italia dan tak lama kemudian terpilih sebagai anggota parlemen pada tahun 1924, sebagai wakil dari golongan sosialis. Yang penting pada fase ini, ia berupaya melakukan transformasi terhadap Partai Komunis yang ketika itu tidak lagi partai terbuka, melainkan sekterian. Ia berjasa mengembangkannya menjadi partai yang berakar pada gerakan massa.

Pemikiran Karl Marx

Prolog

Apa yang anda ketahui tentang KARL MARX ?
Tokoh yang cukup kontraversial ini merupakan salah satu penentu yang sangat berpengaruh bagi perkembangan sejarah pemikiran ilmu sosial. bahkan dapat dikatakan bahwa sejarah akan berbeda sekarang ini tanpa Karl Marx. Demikian salah satu kesimpulan Franz Magnis Suseno mengenai pemikiran Karl Marx.

Pengaruh pemikiran Karl Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah perjalanan dunia ini. Marx tidak hanya merangsang perubahan cara berpikir, akan tetapi juga mengubah cara manusia bertindak. Seperti dikatakan Marx sendiri, “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara; masalahnya adalah bagaimana mengubah dunia.” Hal inilah yang kemudian membedakan Marx dari filosof lain, misalnya, Auguste Comte atau Martin Heidegger, bahkan David Hume yang hanya sanggup mengubah cara manusia berfikir. Meskipun tidak bisa dipungkiri juga bahwa perubahan pemikiran ini berdampak pada kehidupan masyarakat luas, namun efeknya tidak sebesar Karl Marx. Filsafat Marx lebih diletakkan untuk mengubah dunia. Bahkan sebagai ideologi, “Marxisme” menyemangati sebagian besar gerakan buruh sejak akhir abad ke-19 dan dalam abad ke-20 yang mendasari kebanyakan gerakan pembebasan sosial.
untuk lebih jelasnya mari kita cermati tulisan sampah ini sebagai berikut.

Biografi Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. ayahnya, seorang pengacara, menafkai keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Orang tuanya adalah dari pendeta yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan isnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda. Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, Universitas yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru - guru muda penganut filsafat Hegel, tetapi berpikir Kritis. Gelar doktor Marx di dapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian.

Tiga Agama Samawi ;

 Yahudi, Krsten dan Islam

Tiga agama Yahudi, Nasrani dan Islam banyak memiliki kesamaan. Yahudi sebagai pionir hadirnya agama yang dimulai oleh ajaran Abraham - atau Ibrahim dalam bahasa Arab. Ajaran yang diyakini berasal dari Ibrahim diyakini sebagai pilar agama Yahudi. Yahudi menjadikan Musa sebagai tonggak dalam menjalankan iman. Lalu Isa dijadikan oleh Nasrani sebagai panutan bagi pengikut Nasrani. Lalu belakangan Islam datang dengan Muhammad sebagai rasul untuk melengkapi dan menyempurnakan keyakinan dan kepercayaan masa lalu. Sumbernya sama: Abraham sebagai Bapak Monoteisme.

Kedatangan Islam sebagai kepercayaan baru tidak serta merta membuat kepercayaan lama hilang begitu saja. Penganut Yahudi dan Nasrani yang lebih dulu hadir tidak serta merta musnah dengan kedatangan Islam. Hal sama terjadi ketika penganut Yahudi tidak serta merta berpindah menjadi penganut Nasrani begitu kabar tentang Yesus atau Isa datang.

Nabi Muhammad adalah satu-satunya orang yang mampu melahirkan konsep keagamaan, kenegaraan dan langsung mempraktekkannya. Negara Madinah adalah contoh kekuasaan politik Islam yang sangat tangguh dan adil dan beradab. Dalam masa hidup Muhammad belum ada seorang pencuri pun yang dipotong tangannya. Kekuasaan politik Muhammad menjadi demikian kuat yang pada akhirnya mengambil sikap berseberangan dengan Yahudi dan Nasrani dalam hal kiblat. Allah menyuruh arah kiblat beralih dari Yerusalem ke Makkah.

Siapakah Yahudi Itu ?


Siapakah bangsa Yahudi ini ??

Menurut studi sejarah yang didasarkan penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, awal bangsa Yahudi erat hubungannya dengan kisah nabi Ibrahim AS yang ditengarai terjadi kurang lebih 3800 tahun yang lalu atau 1800 tahun SM. 
Tafsir Al-Qur'an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot) (QS, 21:69-71). Putra nabi Ibrahim adalah nabi Ismail dan nabi Ishak kemudian putra nabi Ishak adalah nabi Jakub. 12 putra nabi Yakub ini yang kemudian dikenal sebagai 12 suku Israel.


Putra bungsu nabi Yakub AS adalah nabi Yusuf AS, yang dikenal dari sejarah, setelah ditinggalkan di padang pasir oleh kakak-kakaknya, berhasil menjadi kepala bendahara di Mesir. Karena itu ayahnya, nabi Yakub, serta kakak-kakaknya menyusul nabi Yusuf AS ke Mesir dan hidup damai di sana sampai suatu hari Firaun yang berkuasa memperbudak keturunan mereka yang dikenal dengan bani Israel.


Karena kekejaman Firaun yang tak terkira terhadap bani Israel, Allah SWT telah mengirim nabi Musa (Moses) AS masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa bani Israel keluar dari Mesir. Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur'an, Musa memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Kanaan, (Qur'an, 5:21).


Tembok Ratapan & Politik Yahudi

Tembok Ratapan
Seorang dosen dari universitas Palestina menjadi akademisi yang sekali lagi membahas  sejarah dan menyatakan bahwa sejarah Yahudi di Yerusalem, yang oleh para Yahudi sebagai ibu kota mereka selama 1.600 tahun sebelum Nabi Muhammad menyampaikan agama Islam. Dosen tersebut menyangkal bahwa adanya hubungan orang-orang Yahudi dengan Tembok Ratapan dari Kuil Yahudi.

Shamekh Alawneh, seorang dosen sejarah modern di Universitas Terbuka Al-Quds, berkata bahwa Yahudi menciptakan hubungan dengan tembok tersebut untuk tujuan Politik, untuk meyakinkan Yahudi Eropa dan Zionis untuk datang ke Palestina.  Alawneh berkata, “Tujuan dari Yahudi untuk memberi nama tembok tersebut sebagai “Tembok Ratapan” kepada tembok ini merupakan sesuatu yang politis. Para Yahudi tidak memiliki pilihan lain kecuali untuk menciptakan sebuah alasan mengenai Yerusalem untuk menyebarkan diantara para Zionis atau Yahudi Eropa untuk berhubungan dengan sesuatu yang konkret dari masa lalu Yerusalam. Mereka membuat klaim palsu dan menyebut ‘Tembok Buraq’ sebagai ‘Tembok Ratapan’.
“Tembok tersebut tidak mempunyai akar sejarah,” ujarnya dalam sebuah program televisi yang berjudul Yerusalem – Sejarah dan Budaya. “Ini adalah istilah politik untuk , memenangkan hati dan dukungan dari Zionis di Eropa sehingga mereka akan berpindah dan masuk ke Palestina. Tidak lebih. Pembawa acara tersebut juga merujuk ke “Yahudisasi” dari Yerusalem dan rencana Yahudi untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa.

Selasa, 11 Desember 2012

Sejarah NU



Nahdlatul ulama’, di singkat NU, artinya kebangkitan ulama’. Sebuah organisasi yang di dirikan oleh para  ulama’ pada tanggal 31 Januari 1926 M/ 16 Rojab 1344 H di Surabaya. 
Latar belakang berdirinya NU berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia islam kala itu. Salah satu faktor pendorong lahirnya NU adalah karena adanya tantangan yang bernama globalisasi yang terjadi dalam dua hal :
·          
    Globalisasi Wahabi, pada tahun 1924, Syarief Husein, Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni di taklukkan oleh abdul aziz bin saud yang beraliran Wahabi. Tersebarlah berita penguasa baru itu akan melarang semua bentuk amaliyah keagamaan kaum sunni, yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun di Tanah Arab, dan akan menggantinya dengan model Wahabi. Pengamalan agama dengan sistem bermadzhab, tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain sebagainya, akan segera di larang.
·       Globalisasi imperialisme fisik konvensional yang di Indonesia di lakukan oleh Belanda, Inggris, dan Jepang, sebagaimana juga terjadi di belahan bumi Afrika, Asia, Amerika Latin, dan negeri-negeri lain yang di jajah bangsa Eropa.
           

Sekelumit tentang Ulama NU

Pendiri pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ini dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.

Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).
Kakeknya, Kiai Ustman terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Dan ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.

Tentang Anarkhisme


Anarkisme memiliki tujuan positif dalam kaitannya dengan kehidupan politik karena berperan aktif dalam upaya mengkritik pemerintahan agar tidak berlangsung secara tirani.


SERING terdengar istilah anarkisme dalam media massa namun kadang orang tidak mengerti arti anarkisme yang sesungguhnya. Anarkisme selalu dikaitkan dengan kebrutalan atau kekacauan (chaos), padahal anarkisme merupakan sejarah panjang salah satu ideologi.
Istilah ini kali pertama digunakan oleh Pierre-Joseph Proudhon. Secara ontologi, anarkisme bertujuan menolak otoritas penuh yang mengatur masyarakat; negara yang mengatur rakyatnya. Kaum anarkis memercayai bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat dasar alamiah untuk hidup bekerja sama antarkelompok individu.
William Godwin, seorang anarkis, memberikan tesis mengenai sifat kerja sama tersebut dengan analogi bahwa manusia jika dikembangkan dengan sempurna, bukan hanya bisa tidak agresif melainkan juga menjadi makhluk yang dapat bekerja sama.

Keadaan manusia yang didambakan ini tidak terkubur di masa lalu, melainkan merupakan masa depan yang tak terhindarkan, dan dalam masa depan semacam ini negara tidak akan diperlukan lagi. (Jonathan Wolf dalam An Intruduction to Political Philosophy, 2006).

Secara ekspilisit, kaum anarkis menolak adanya negara. Negara hanya akan memberikan pembelengguan terhadap warganegara. Mereka percaya bahwa setiap individu dapat mengatur dirinya karena hakikatnya setiap manusia memiliki sifat untuk bekerja sama.

Namun, apakah benar pendapat kaum anarkis bahwa sifat dasar manusia adalah mau bekerja sama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan satu keadaan alamiah manusia (state of nature)-tanpa terikat otoritas apa pun.