Aku bukan padi yang mengenyangkan perut para petani kelaparan,
aku adalah ilalang. Aku bukan bulan ataupun bintang yang menngantung di
gulita malam, akulah malam itu sendiri. Aku bukan Oase di lautan pasir,
akulah padang tandus tersebut. Aku bukan kesturi yang mengharumkan
jubah-jubah musafir haji, akulah bangkai dari jiwaku sendiri. Aku bukan
pelabuhan yang hendak kau labuhkan bahteramu di bumi pantaiku, akulah
bebatuan karang tajam. Aku bukan mimpi yang menjadi bunga tidurmu,
akulah gaduh yang membangunkan tidurmu. Aku bukan jenaka yang melipur
laramu, akulah lara itu. Aku bukan rindang pohon tempatmu berteduh,
akulah kaktus berduri. Aku bukan langit yang selalu kau kagumi birunya,
akulah mendung. Aku bukan gerimis yang menari didepan terasmu, akulah
guyuran hujan yang mendatangkan air bah. Aku bukan pelangi yang sering
kau lukis, akulah petir yang kau takuti. Aku bukan pangeran yang melawan
naga-naga api demi menyelamatkanmu, akulah api itu sendiri. Aku
bukanlah penunggang kuda yang kau rindukan, akulah pengemis yang kemarin
kau ludahi diseberang jalan. Aku bukanlah semilir angin yang membuat
rambutmu tergerai indah, akulah taufan yang kau kutuk bersama penduduk
kampungmu. Aku bukan dawai kecapi yang terkadang kau petik disaat kau
dibenam duka, akulah duka itu sendiri.
Seperti menelan ludah
sendiri, setiap kali kau berlalu dihapanku. Aku hampir menyekutukan
Tuhanku dengan pesonamu. Kalau saja, tidak ada seekor merpati yang
mengabarkan kecantikanmu padaku, mungkin aku tidak akan segila ini. Aku
tidak ingin bernasib seperti kisah Laila Majnun, aku juga tidak ingin
seperti kisah Sampek dan Engtay.
Musim ini adalah musim yang tidak
dapat aku kenali. Tiba-tiba kau tumbuh subur ditaman hatiku. Entah
melati atu mawar, aku belum mencium wangimu. Adakah Tuhan ikut campur
dalam ritual penyiksaan ini. Rindu yang tidak pernah aku inginkan, cinta
yang tak pernah aku harapkan, secara sengaja Tuhan menghadirkannya pada
relung resahku. Ataukah kau sudah bersepaham dengan Tuhanku untuk
membunuhku perlahan.
Kau menggenggam jantungku yang sudah berdenyut lemah, ataukah kau ingin mengulitiku. Siapa sebenarnya dirimu?.
Malaikatkah? Ibliskah? Manusiakah? atau kau memang Tuhan?
Kau
rajam aku, dengan setiap untaian ucapmu. Kau bekap aku dalam lautan
pesonamu. Kau goreskan luka disetiap pandangmu. Inikah siksaan atas
dosaku.
Sudah bertahun aku mencari petunjuk siapa dirimu. Tak juga kutemu.
Sujudku pada malam, do’aku pada pepohonan. Tidak ada guna sedikitpun.
Siapa dirimu?
Tuhan, aku bukan Majnun. Salah Kau juga membikin perjumpaan aku dengan dia.
Esok pagi aku akan membakar Surgamu. Kali ini aku bukan memohon, tapi memaksa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar