Malam sudah semakin larut, tidak ada raut bulan untuk malam
ini, bintang-gemintang enggan lagi menampakkan diri. Guyuran hujan sore
tadi, menyisakan gerimis yang tak juga berhenti, menambah sepi semakin
mengguris balutan luka hati. Entah apa yang terjadi, aku terjebak dalam
polemik-sengketa hati dengan seorang kawan. Kawan yang menjadi urat nadi
kehidupanku di tanah sultan, kawan yang melulu mengajarkan aku tentang
pentingnya perjuangan pemuda. Iya, perjuangan pemuda yang selalu kami
obrolkan dibangku warung kopi. Aku memanggilnya Jammin. Tapi semangat
itu terlihat jelas pada diri Jammin tepatnya, dua tahun yang lalu.
Gerimis
masih menari rintik, suranya nampak riuh jatuh membentur perut bumi,
sesekali terdengar romantis. Sementara aku masih belum bisa pulang ke
kos, kemungkinan aku tidur di kos Jammin. Suasana semakin terasa dingin
dan aku tahu solusinya. Seperti biasanya kopi panas dan sebungkus rokok,
pasti mampu menyelamatkan diri dari cuaca buruk malam ini.
“Tau gak kamu tentang pengkhianatan Stalinnis terhadap kaum Marxist”, tanya Jammin padaku.
Sudah
beratus hari kami memperbincangkan tentang kegagalan kaum kiri dalam
merumuskan strategi Marxist. Tidak ada yang menggembirakan dari apa yang
kami obrolkan. Tatanan Dunia sudah sangat berbeda jika dibandingkan
dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Sudah hampir putus asa kami
memikirkan hal itu.
“Eh, bray apa masih perlu ada revolusi? Kopi ma rokok ini ada aja, sudah revolusi namanya”,
“Emang mau kaya gerakan 30 september kamu?”
“Emang mau jadi oportunant kaya tokoh ’66 ma Reformasi ?” tanyaku balik.
“Eits, kamu nanya kaya orang militer aja”,
“Sebenarnya udah gak perlu sih”,
“coba kita lihat bagaimana Uni Soviet paska Lenin,
“ justru malah ditunggangi oleh kepentingan Stalin yang sok jago itu ”, jawab Jammin.
“Gak usah jauh-jauh Uni Soviet, pikir tuh Indonesiamu. Jangan mimpi jadi Trotsky”,
tandasku lagi.
Obrolan
sedikit menolak arus memang sangat akrab dengan keseharian kami,
pemberontakan seolah menjadi watak kami. Terkadang agak males juga sih,
harus sibuk dengan urusan yang sebenarnya tidak perlu diperbincangkan.
Mau ngomongin Indonesia, eh ternyata sudah ada sutradara yang lebih
berhak ngatur indonesia. Bukannya sudah ada aktor intelektual yang
sudah jauh-jauh hari merumuskan tatanan bagi Dunia ini, tak terkecuali
bagi Indonesia. Seolah semuanya sudah ditunggangi. Kita cukup paham
bahwa Indonesia adalah bangsa yang selalu ditunggangi oleh
negara-negara Eropa, terutama Belanda. Sekarang Indonesia juga masih
ditunggangi oleh apa yang kita sebut sebagai The New World Ordernya Globalisasi.
Merdeka
100% sekedar mimpi utopis belaka. Sehabis dijajah bangsa lain, sudah
dapat dipastikan kelak bangsa ini akan dijajah oleh anak bangsanya
sendiri. Sumpah Pemuda dan beberapa gerakan pembaharuan oleh pemuda
hanya menjadi dongeng para orang tua. Pemuda sama saja, esok hari pasti
menjajah bangsa sendiri. Gerakan ‘08, gerakan ’45, gerakan ’66, gerakan
’80 an dan gerakan Reformasi hanya bentangan sejarah yang tidak cukup luwes untuk kita banggakan. Semuanya ditunggangi, ada
segelintir manusia yang diuntungkan dan ada berjubel manusia yang
dirugikan. Mungkin sesepuh bangsa ini akan meronta kesakitan kalau
melihat apa yang terjadi di Indonesia. Peristiwa-peristiwa berdarah
sepanjang sejarah segera dilupakan. Percuma aku sebutkan satu persatu.
Romantisme Sentimentalistik yang absurd.
“Udahlah bray, ngapain ngurusin hal itu, aku udah gak percaya sama apa-apa yang mereka perjuangkan”, tambah Jammin.
“Maksudnya”, tanyaku
“Sekarang gini, ngapain sich para pemuda teriak ngomong kalau mereka pro rakyat kecil,
“ tapi ujung-ujungnya juga pamrih ma kekuasaan ”,
“Ikut jihad aja mendingan, ” jawabnya bercanda.
Aku
terdiam sejenak, agak sedikit rasional apa yang disampaikan Jammin.
Sepertinya sudah gak perlu lagi ada segerombolan pemuda turun kejalan
untuk meneriakkan slogan-slogan pro-Rakyat. Seperti Pendidikan Gratis
Untuk Rakyat, Tolak Neoliberalisme, Tolak ini dan itu. Belum lagi,
persolan pop culture yang menjangkiti para pemuda Indonesia.
Ekstasi kegilaan terhadap minat konsumsi yang berlebihan. Belum lagi,
elite pemerintah yang suka foya-foya dan masih banyak lagi. Ikut jihad
aja sepertinya lebih baik, ikut akrobat bom bunuh diri sepertinya lebih
revolusioner. Sejatinya revolusi, pikirku.
“Bulan depan, gimana kalau kita naik”, tanya Jammin.
“Mau naik kemana emang ?”, tambahku.
“Kita setubuhi Lawu lagi aja, gimana”. jawab Jammin.
“Masa Lawu melulu, sekali-kali ajak aku ndaki ke gunungnya Prissa”,
aku menimpali sambil bercanda.
“Mesum kamu, hak patennya udah jadi punyaku”, balas Jammin.
“Gila kamu, udah diapain aja tuh Prissa”, tanyaku.
“Ah, mau tahu aja kamu. Udah aku privatisasi, sekarang aku pemilik modal”,
jawabnya.
“Aku investasi donk”, pintaku.
“Ntar aku kasih kalau dah bosen, just kid bray. don’t be angry”, jawabnya sambil cengengesan.
Sedikit
gurauan yang agak serius, pikirku. Prissa udah jadi komoditas yang
diprivatisasi. Benar apa yang disampaikan Erich Froom dalam The Art Of
Loving, bahwa cinta udah jadi barang langka untuk saat ini. Karena apa
yang tampak pada diri perempuan hanya sekedar nafsu yang harus
dinikmati. Maskulinitas ternyata masih sangat nampak karakter
superioritasnya. Mungkin kesetaraan Gender gak bakal terwujud, kalau
semua perempuan mirip Prissa. Amin.
“Gimana, mau gak naiknya”, tanya Jammin.
“Kita obrolin besok aja ma anak-anak, dah ngantuk nich, inget asal jangan lawu”, jawabku.
“Ok, bray. Moga mimpi basah ya, hehehehehe”, tambahnya.
“Amin, moga mimpi tidur bareng Prissa”, jawabku.
Lelap sudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar