Minggu, 02 Desember 2012

Selamatkan Generasi Muda dari Kekurangan Tembakau


Berangkat dari diskusi kecil yang diagendakan rutin oleh mahasiswa Temanggung di Yogyakarta, trenyata semakin mempertajam  nalar kritis para putra daerah. Sehingga, dirasa perlu ada semacam discourse yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Temanggung. Ekspresi kaum muda terhadap ketidak berdayaan petani tembakau ini, sudah sepantasnya kita apresiasi secara positif. Jargon “Selamatkan Generasi Muda dari Kekurangan Tembakau” ini didedikasian untuk para petani Tembakau yang telah memperjuangkan aset daerah terbesar di Temanggung, karena pada dasarnya justru aparat pemerintah di Temanggung seolah mengamini apa yang menimpa para petani dan mereka turut memperundangi para petani melalui regulasi perundang-undangan Tembakau yang dibuat oleh Birokrasi Negara. Rancangan undang-undang yang menganjurkan untuk menekan produksi tembakau di Indonesia adalah bentuk neo-imperalisme Negara-negara maju.


Indonesia adalah penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Kalau dilacak sejarah Indonesia, hal inilah yang membuat Negara-negara Eropa melakukan penjajahan di Indonesia. Kemudian hal itu diulangi lagi oleh mereka pada situasi dimana penjajahan secara fisik dikecam oleh Negara-negara di dunia. Akan tetapi, bentuk penjajahan baru ternyata lebih mengerikan dari pada penjajahan pada masa klasik. Negara-negara asing sedang meneror Indonesia melalui propagandanya dalamk bentuk  necotin war  atau perang melawan nekotin.  Nekotin sangat merugikan kesehatan dan dapat berdampak pada pendeknya masa hidup seseorang, atau anggap saja dengan merokok baik perokok aktif maupun pasif  akan mempercepat kematian. Sehingga, diperlukan adanya rokok yang rendah nekotin. Seperti pa sebenarnya rokok rendah nekotin?, tentunya rokok-rokok yang di produksi oleh Negara Asing atau sering dikenal dengan nama rokok putihan.

Lagi-lagi Neoliberalisme menancapkan kuku-kuku tajamnya pada jantung petani Indonesia. Bentuk regulasi yang menyengsarakan rakyat adalah bagian dari agenda Neoliberalisme di Indonesia. Pasar bebas yang ditopang oleh Negara-negara Neolib menjadikan Indonesia tidak berdaya, ditambah lagi kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono yang cenderung mengamini segala bentuk intruksi dari pihak asing, baik investor asing maupun Negara Pemodal. Pasal 27 dalam RUU Tembakau menjadi pelicin untuk memperlancar  kepentingan asing di Indonesia. Inti dari pasal 27 adalah tentang bahaya tembakau bagi kesehatan. Lantas bukanya hamburger, pizza dan berbagai macam produk makanan instan yang diimpor dari gaya hidup konsumsi luar negeri itu tidak membahayakan kesehatan?. Belum lagi beberapa pasal lainnya, seperti pasal 81, 82 dan 83 yang melarang tentang promosi produk rokok baik dalam bentuk iklan maupun sponsor.

Bukan bermaksud untuk mengajak masyarakat turut serta mengonsumsi rokok atau apa, akan tetapi kecintaan kita terhadap aset lokal ini, perlu dipertanyakan kembali. Mengapa kita terkadang malu menjadi seorang anak petani miskin. Apa salahnya menjadi petani?. Sangat menarik, ketika kita melihat lonjakan harga tembakau sampai melangit. Namun, apakah para petani ini, diuntungkan secara total?, apakah mereka benar-benar menikmati hasil keringat dari panen Tembakau?, atau justru ada segelintir cukong-tengkulak Tembakau yang diuntungkan dengan lonjakan harga tersebut?. Sejauh mana kesejahteraan para petani tembakau?, sudahkah anak-anak mereka tercukupi kebutuhan pendidikannya? Dan masih banyak lagi tanda tanya besar yang memerlukan penyelesaian masalah secara adil dan memihak rakyat Indonesia bukan memihak kepentingan asing.

Disinilah keberpihakan pemuda dan para intelektual muda “Mahasiswa” Temanggung harus dipupuk. Kepedulian para pemuda pada masyarakat miskin harus diprioritaskan. Jangan sampai para intelekual muda terjebak dalam “elitisme intelektual” . Merasa pintar dalam segala hal, namun tidak mau memperjuangkan kepentingan rakyat di tingkatan Grassroot.

Generasi tua Indonesia yang pro terhadap pihak asing harus segera kita galikan kuburan bagi mereka. Mereka tidak lainadalah boneka dan kepanjangan tangan asing yang menjajah rakyatnya sendiri. Gerakan alternatif rakyat dengan kolaborasi para pemuda, mahsiswa, petani, pedagang kaki lima, pedagang sayur, tukang becak, supir angkot dan beberapa elemen lainnya sangat menentukan nasib Indonesia pada umumnya, terlebih bagi masyarakat Temanggung sendiri. Sekali lagi jangan sampai para cukong-tengkulak Tembakau menunggangi para petani. Kesejahteraan Petani Tembakaulah yang menjadi prioritas utama. Semoga Allah merestui perjuangan kita dan para petani. Amin (Bangkit Ahmad)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar